beina-prafantya






         Perasaan, Pemikiran, Gagasan, Apa Pun tentang Aku

September 23, 2008

Filed under: Semangatku — beina-prafantya @ 7:23 pm

Filed under: Sajak-Sajak — beina-prafantya @ 7:15 pm

September 21, 2008

“Tata Bahasa: Sepenggal Rindu untuk Keajegannya”

Filed under: Bahasaku — beina-prafantya @ 9:59 pm

Sepertinya bahasa Indonesia nyaris menjadi bahasa asing di negerinya sendiri. Betapa tidak, banyak sekali anggapan bahwa tata bahasa Indonesia –yang kenyataannya memang sulit ajeg ini– adalah sistem yang sulit dipahami. Kemudian, ada gejala orang Indonesia lebih “suka” mencampurkan bahasanya dengan bahasa asing (Inggris terutama) demi suatu kesan yang lebih mendalam. Walaupun kenyataannya bahasa Indonesia memang mendapat banyak sumbangan kosa kata dari bahasa asing yang ajeg secara struktur terlebih dahulu. Bahkan akhirnya, bahasa asinglah yang lebih banyak dipergunakan di negeri kita sendiri pada kalangan tertentu.

 

Dalam beberapa bagian memang ada sistem kebahasaan yang rasanya tidak terlalu penting untuk dipikirkan terlalu mendalam. Namun, banyak hal yang menjadi kewajiban bagi kita selaku pengguna setia bahasa Indonesia untuk memahami apa, mengapa, dan bagaimanakah tata bahasa Indonesia itu sebenarnya terlepas dari kebelumajegannya. Paling tidak, kita mengetahui seperti apa sistem kebahasaan yang paling sederhana. Apalagi bagi kita pengguna awam bahasa asing, tentu secara logis bisa kita bandingkan bahwa bahasa Indonesia yang telah kita gunakan bertahun-tahun sudah semestinya menjadi hal yang lebih mudah untuk dipelajari.

 

Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kepiawaian berbahasa secara umum berpengaruh pada keberhasilan seseorang. Orang yang mempunyai kecerdasan verbal mampu mengubah dunia. Begitu besar pengaruh mereka terhadap orang lain (hanya) dengan berkata-kata. Faktanya, kita lihat saja begitu banyak orang tertipu oleh orang yang pandai meramu kalimat yang membuai. Namun, hal itu sebenarnya bisa pula kita hindarkan dengan kecerdasan berbahasa (mendengarkan, membaca situasi, serta mengemukakan tanggapan secara tepat dan santun) kita, bukan? Sepertinya bukanlah hal yang terlalu sulit untuk menjadi pengguna bahasa secara baik dan benar terutama jika kita hanyalah penutur ekalingual (berbahasa tunggal): bahasa Indonesia saja, atau mungkin bilingual: bahasa ibu dan bahasa Indonesia. Sebaiknya memang kita segera menuju kepiawaian berbahasa tersebut.

 

Memang, tata bahasa hanyalah kaidah buatan manusia. Mungkin karena itulah tata bahasa Indonesia yang usianya masih relatif muda ini masih belum ajeg juga sistem tata bahasanya. Akan tetapi, tata bahasalah yang mampu memahamkan kita bahwa sesuatu memiliki makna yang berbeda, dialah yang sanggup membentuk pola pikir kita. Hanya saja kita seringkali tidak menyadarinya. Tata bahasa bukanlah sistem yang dibuat untuk bikin pusing. Tata bahasalah yang justru akan memudahkan kita memahami sistem bahasa tertentu. Prasangka kitalah yang membuatnya jadi rumit. Kita belajar untuk mendapatkan sesuatu dengan cara berpikir sistematis. Tidakkah berpikir sistematis itu adalah salah satu ciri orang yang terdidik dengan baik? Bukankah bahasa yang runtut itu mencerminkan orang yang berpikir sistematis?

 

Bisakah cinta itu tumbuh tanpa mengenal sosoknya?

KAPAN DONG, GUE BISA PAKE BAHASA SEMAU GUE?

Filed under: Bahasaku — beina-prafantya @ 9:53 pm

”Bahasa Indonesia tuh, susah juga, ya? Kok, apa yang dipake sehari-hari sama yang dipake di pelajaran bahasa Indonesia beda banget. Padahal kan, masih itu-itu juga maksudnya? Jadi, kalo kita pake bahasa gaul salah, dong?”

 

Oke, taruhlah kita punya dua kutub yang berbeda: bahasa Indonesia baku dan bahasa Indonesia “gaul”. Ada anggapan bahwa bahasa gaul adalah bahasa Indonesia yang salah. Namun, jika memang bahasa gaul itu salah, siapa yang akan disalahkan saat bahasa gaul tercipta? Adakah yang sudi mengangkat tangan dan mengakui kesalahan itu? Sepertinya tidak.

 

Fenomena bahasa gaul (baca: bahasa populer) sesungguhnya akan melanda para pengguna bahasa dalam kurun waktu tertentu. Kalau begitu, bahasa gaul tersebut akan musnah seiring dengan waktu dan berganti dengan bahasa populer yang baru, entah apa namanya kelak. Lalu, masalah benar atau salahnya tadi?

Dalam pembelajaran bahasa apapun dikenal dengan istilah konsistensi atau ketaatasasan alias keajegan berbahasa. Secara luas konsistensi ini dititikberatkan kepada tata bahasa atau gramatika (grammar). Inilah yang sesungguhnya dikatakan sebagai bahasa yang benar. Di sisi lain, dalam pembelajaran bahasa juga kita diajari untuk menggunakan bahasa yang baik. Bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan dalam situasi dan kondisi yang tepat. Ini berarti bahasa yang baik tidak selalu harus taat asas secara ejaan (EYD).

 

 

Yang lebih penting, saat kita berbahasa yang baik adalah bahasa tersebut tepat sasaran dan menciptakan pengertian yang tepat. Jadi, bahasa gaul tentu boleh saja digunakan pada situasi dan kondisi yang tepat. Dalam ketepatan penggunaannya bahasa tersebut menjadi bahasa yang baik walaupun bukan bahasa yang benar (taat asas).

 

 

So, kamu boleh aja pake bahasa gaul asal situasi dan kondisinya tepat. Liat dulu siapa yang bakal kalian ajak ngomong, liat juga kapan dan di mana kamu make bahasa itu. Dengan begitu, bahasa gaul yang kamu pake akan jadi bahasa yang baik karena tepat situasi dan kondisinya. Nah, jangan takut make bahasa gaul ! Kalian boleh make bahasa gaul waktu kongkow ama temen-temen, nulis di buku harian, nulis karya sastra populer dan lain-lain deh ….

AGAR KOMUNIKASI SUKSES DAN LANCAR

Filed under: Intermeso — beina-prafantya @ 9:52 pm

1.      Lihat siapa teman bicara kita (pertimbangkan usia dan statusnya) dan pertimbangkan situasi dan kondisi pembicaraan (formal/semiformal/nonformal).

2.      Pilih kata yang bisa dimengerti dengan mudah.

3.      Hindarkan menggunakan kata ini, itu, anu, begini, dan begitu secara berlebihan. Jelaskan sesuatu dengan teratur dan kecepatan yang tepat.

4.      Gunakan kalimat-kalimat yang tidak terlalu panjang atau pendek. Ini lebih komunikatif. Perhatikan jeda dan intonasi kalimat.

5.      Pelafalan/artikulasi/cara pengucapan kata harus jelas agar mudah dipahami.

6.      Hindarkan mengulang-ulang berita yang sama, hal ini akan membuat teman bicara bosan.

7.      Tandailah perpindahan topik pembicaraan dengan jelas sehingga teman bicara paham akan perpindahan tersebut.

8.      Perhatikan waktu berbicara, jangan terlalu lama, jangan terlalu sebentar. Waktu yang terlalu lama membuat teman bicara bosan, waktu yang terlalu sebentar membuat lawan bicara tidak punya cukup waktu untuk mendalami pembicaraan.

9.      Berekspresilah dengan wajar, jadilah diri sendiri.

10. Tatap mata teman bicara kita saat dia berbicara secara wajar.

11. Buka dan tutuplah percakapan secara jelas bergantung situasi: formal, semiformal, atau informal.

SEJAUH MANA KITA MAMPU BERBAHASA?

Filed under: Bahasaku — beina-prafantya @ 9:50 pm

… ini loh, kalau ininya tidak dibegitukan, nanti kan jadi begitu …”

 

Penggalan kalimat di atas bukanlah kalimat yang aneh diucapkan. Namun, saat dia menjadi tulisan, kalimat tersebut sungguh-sungguh tampak janggal. Kata ini, itu, anu, begini, dan begitu adalah kata yang cukup sering digunakan sebagai kata ganti dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, saking produktifnya, kata-kata tersebut menjadi kata favorit yang justru mengakibatkan ketidakjelasan makna bagi orang yang hendak menanggapinya. Jadi, sebenarnya apa yang salah?

 

Dalam keseharian bahasa adalah sebuah alat yang tidak bisa terlepas dari diri kita. Apa pun yang kita lakukan, bahkan tidur pun kita tetap berbahasa. Apalagi kegiatan yang kita lakukan secara sadar, tentu bahasa selalu kita gunakan. Justru bahasalah yang membuat segala sesuatu (seharusnya) menjadi semakin jelas dan mudah untuk dipahami. Bahasa pula yang mampu menciptakan sistem kerja sama antarmanusia sehingga tercipta peradaban di dunia ini. Kendati demikian, sempat terbersitkah dalam pikiran kita, sejauh mana kepiawaian kita menggunakan bahasa? Semahir apa kita berkata-kata?

 

Salah satu syarat berkomunikasi adalah terciptanya pengertian yang sama di antara orang yang terlibat dalam situasi komunikasi tersebut. Misalnya, saat seorang

pembicara mengatakan A, sang pendengar juga memahaminya sebagai A. Jadi, bahasa sebagai alat komunikasilah yang menjadi kunci keberhasilannya.

 

Ketidaktepatan pilihan kata akan menyebabkan hambatan dalam kepahaman para peserta komunikasi. Tidak menutup kemungkinan bahwa peserta komunikasi akan memiliki anggapan dan tanggapan yang berbeda atau bahkan salah pengertian. Oleh karena itu, berjelas-jelaslah dalam penggunaan bahasa, terutama dalam situasi yang rawan akan kesalahtanggapan atau kesalahanggapan.

 

Jangan menyalahkan orang kedua, orang yang kita ajak bicara, saat dia salah menanggapi ucapan kita. Lihatlah kembali ke diri kita, tanyakan, apakah kita sudah berbahasa dengan tepat dengan situasi dan kondisi berkomunikasi atau belum?

 

Jangan pula berharap orang akan memahami apa yang kita katakan dengan mudah tanpa usaha kita untuk menggunakan bahasa secara tepat, sesuai situasi dan kondisi komunikasi. Jelaskanlah maksud kita secara runtut dengan ekspresi yang tepat serta keyakinan bahwa orang yang kita ajak bicara akan paham maksud kita. Paling tidak, usaha ini akan mengurangi kemungkinan salah anggap dan salah tanggap. Semua orang juga ingin percakapan mereka lancar, bukan? Bahkan sebisanya, kita makin irit bicara agar makin hemat waktu dan tenaga.

Ber-curhat-lah Lewat Tinta Kata-Kata

Filed under: Intermeso — beina-prafantya @ 9:48 pm

Kehidupan remaja memang sangat sarat dengan liku-liku emosi. Senang, sedih, marah, bete, haru, benci, sayang, rindu, dendam, semua bercampur aduk menjadi satu. Oleh karena itu, alangkah sayangnya jika kita melewatkan liku-liku tersebut begitu saja mengingat singkatnya fase remaja: cuma beberapa tahun! Abadikan semua itu lewat tinta kata-kata. Dengan menulis Kamu sekalian bisa mengabadikan semua cerita, dari cerita yang supergaring sampai yang sangat mengesankan! Tuliskanlah semua yang kamu rasakan saat ini juga, jangan tunda lagi! Jangan pedulikan pikiran bahwa tulisan kita “gak rame” karena yang merasakan hanya kita sendiri. Satu saat ketika Kalian telah menjadi manusia dewasa, Kalian akan menemukan kembali diri remaja Kalian dalam tulisan tersebut. Saat itu pula kalian akan tersenyum, atau bahkan tertawa mengingat konyolnya diri Kalian dalam menyikapi sebuah masalah. Masa remaja yang berkesanlah yang akan mendewasakan dan mematangkan diri seorang manusia. Selamat menulis!

KEKAKUAN BAHASA ILMIAH

Filed under: Bahasaku — beina-prafantya @ 9:46 pm

Saat kita harus menulis karya ilmiah, segala tentangnya terasa amat menyulitkan. Sulit rasanya menemukan keindahan dalam sebuah karya ilmiah. Semua terasa begitu kaku dan formal.

 

Sebenarnya, harus dipahami bahwa kekakuan tersebut adalah cara untuk menghindarkan tanggapan yang salah tentang isinya. Semua dalam karya ilmiah dibuat begitu terbuka, lugas, masuk akal, dan bermakna tunggal, tetapi tetap komunikatif. Tak ada bunga-bunga kata sama sekali, tak pula ada libatan perasaan sang penulis di sana. Ya, semua itu harus dipenuhi demi terciptanya pengertian yang sama.

 

Kalau kita bandingkan dengan kacamata awam antara karya sastra yang naratif dengan karya ilmiah, tentu akan sangat jauh bedanya. Jika hakikat karya sastra jelas menjunjung tinggi hakikat utile et dulce (baca jurnal yang lalu) alias benar-benar mengedepankan keindahan sekaligus manfaat, boleh saja dianggap bahwa karya sastra lebih unggul. Sementara, karya ilmiah seperti mengedepankan masalah manfaat saja, sisi keindahannya seolah terabaikan.

 

Sebenarnya, karya ilmiah murni tidaklah seratus persen mengesampingkan keindahan. Pada dasarnya, memang libatan emosi dan bunga-bunga kata sebisanya dihindarkan demi terciptanya pengertian yang sama antara penulis dan pembaca. Namun, janganlah lupa bahwa sekalipun cenderung kaku, tetap saja seorang penulis karya ilmiah harus memiliki jiwa seni dalam menggayakan kalimat. Seorang penulis karya ilmiah juga harus terampil memilih kata (diksi) dan merangkaikannya menjadi kalimat yang baik dan benar. Hal ini sangat bermanfaat demi terciptanya bahasa karya ilmiah yang tidak monoton, komunikatif, tetapi tetap memenuhi kaidah tata bahasa ilmiah dan konvensi naskah karya ilmiah.

 

Yang perlu diingat adalah bahwa sebuah karya ilmiah yang baik adalah karya ilmiah yang mampu memahamkan pembacanya. Paham tidaknya seorang pembaca ditentukan oleh runtut tidaknya bahasa seorang penulis. Sementara, runtut tidaknya bahasa seorang penulis bergantung pada keruntutan berpikirnya. Nah, lalu dari mana asalnya keruntutan berpikir seseorang?

Jika …., maka …

Filed under: Bahasaku — beina-prafantya @ 9:42 pm

Jika …., maka …

(Sebuah Kaidah yang Terlupakan)

Jika dan maka seolah sudah menjadi pasangan serasi dalam kalimat berhubungan syarat. Bahkan, hingga kini, logika matematika masih menggunakan pasangan ini.

 

Sesungguhnya, kalau kita teliti lebih lanjut, jika adalah kata penghubung yang menyatakan hubungan syarat, sedangkan maka adalah kata penghubung yang menya-takan akibat. Nah, dalam bahasa Indonesia, baik jika maupun maka digunakan sebagai kata penghubung yang mencirikan perluasan keterangan. Seandainya kita menggunakan kata jika dan maka bersamaan, hal itu mengakibatkan kalimat menjadi tidak efektif karena tidak jelas jabatan subjek dan predikatnya.

 

Contoh

 

Jika air sungai meluap, maka daerah ini terkena banjir.

         Ketr Syarat                    Ketr. Akibat

 

Nah, jika kita perhatikan contoh tersebut, jelaslah bahwa jika dan maka yang digunakan bersamaan dalam kalimat justru menghablurkan kesempurnaan kalimat. Jadi, jika harus menggunakan kata jika, tidak perlu menggunakan kata maka, dan sebaliknya. Perhatikan contoh kalimat yang benar berikut ini!

 

Jika air sungai meluap, daerah ini terkena banjir.

 

       Ketr. Syarat              S            P       Pel.

 

Daerah ini terkena banjir jika air sungai meluap.

 

         S          P      Pel.         Ketr. Syarat

 

Air sungai meluap maka daerah ini terkena banjir.

 

       S             P                     Ketr. Akibat

 

Tidak hanya kata jika yang sering berpasangan dengan maka, tetapi juga kalau, jikalau, dan karena. Hal yang sama berlaku untuk kata-kata tersebut.  

 

 

 

BACA BUKU, … MALES BANGET!

Filed under: Intermeso — beina-prafantya @ 9:36 pm

Judul tulisan ini menyiratkan keengganan banyak orang tentang membaca. Padahal, melalui bacaan begitu banyak informasi bisa didapat. Seperti slogan sebuah penerbit yang cukup ternama di Bandung, ”Banyak baca, banyak tahu. Malas membaca, jadi sok tahu!”

 

Bacaan sebenarnya sebuah alternatif cara memeroleh ilmu pengetahuan. Kenyataannya, tidak selalu dengan komunikasi lisan kita dapat menyerap informasi. Bisa dikatakan bahwa komunikasi lisan memberi setengah dari keseluruhan informasi yang ada, setengah informasi lagi diperoleh melalui bacaan. Bisa dibayangkan seseorang yang malas membaca juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi (sosialisasi adalah wadah komunikasi lisan). Artinya, hampir seratus persen informasi tidak didapatnya. Itu juga berarti dia tidak memiliki secuil pengetahuan tentang apapun. Sungguh mencemaskan, bukan?

 

Yang sulit memang menciptakan kebutuhan akan ilmu dan pengetahuan tadi. Jika sudah tercipta kebutuhan tersebut, bukanlah masalah bagi seseorang untuk mencari informasi, baik melalui komunikasi lisan ataupun komunikasi tertulis alias bacaan tadi.

 

Namun, bagi seseorang yang telah mereka cita-citanya sejak dini, kemudian melakukan upaya untuk mencapainya, orang tersebut sesungguhnya telah menciptakan kebutuhan akan ilmu pengetahuan. Baginya mencari informasi adalah keharusan! Lalu, apakah kita hanya akan berandai-andai menjadi orang tersebut atau justru kitalah yang akan menjadi orang tersebut? Jawabannya ditentukan oleh diri kita sendiri.

 

Next Page »